Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.
Kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya ketika turun musibah atau bencana bukanlah sebuah kemunafikan. Bahkan orang yang tidak melakukan itu dipandang tercela, karena sikap itu merupakan kebaikan yang diajarkan dan dianjurkan oleh Syariat.
Allah menjadikan musibah dan bencana sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya, supaya mereka bertobat dan tunduk kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya):
Allah juga mencela orang-orang yang tidak mau kembali dan menundukkan diri kepada-Nya ketika ditimpa azab. Allah berfirman (yang artinya): “Dan sungguh Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, tetapi mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka dan tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” [QS. Al-Mu'minun: 76].
Tetapi yang tercela adalah orang yang hanya tunduk kepada Tuhannya pada saat sulit dan bahaya saja, lalu ketika kesulitan dan bahaya itu dilenyapkan darinya, ia mengingkari nikmat Allah. Allah berfirman tentang orang semacam ini (yang artinya):
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Manusia itu mengeluh dan mengaduh hanya ketika ia mendapat musibah. Adapun dalam kondisi mendapat nikmat, ia berdiam, baik bersyukur maupun kufur: ‘Dan bila kalian ditimpa oleh kemudharatan maka kepada-Nya kalian mengaduh (meminta pertolongan). Lalu apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari kalian, tiba-tiba sebagian dari kalian mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain)’ [QS. An-Nahl: 53-54]. Lalu Allah—Subhanahu wata`ala—mencela kedua golongan ini, yaitu golongan yang tidak berdoa kepada-Nya ketika ditimpa musibah dan tidak pula bertobat kepada-Nya, dan golongan yang berdoa dan merendahkan diri kepada-Nya serta bertobat kepada-Nya, tetapi ketika musibah tersebut dilenyapkan, mereka berpaling dari-Nya dan menyekutukan-Nya dengan sesembahan-sesembahan lain. Yang terpuji adalah golongan ketiga, yaitu orangorang yang berdoa dan bertobat kepada-Allah, kemudian tetap istiqamah beribadah serta bertobat kepada-Nya dalam kondisi senang. Mereka tetap beribadah dan taat kepada Allah, baik dalam kondisi senang maupun dalam kondisi susah. Mereka inilah ahli kesabaran dan kesyukuran.”
Karena itu, kewajiban seorang mukmin adalah kembali dan menundukkan diri kepada Tuhannya dalam segala keperluan dan dalam segala urusannya. Karena hanya Allah yang mencukupkan keperluan hamba-Nya, baik dalam menghilangkan keburukan maupun dalam mendatangkan kebaikan. Allah berfirman (yang artinya): “Bukankah hanya Allah yang mencukupi (dan melindungi) hamba-hamba-Nya?” [QS. Az-Zumar: 36].
Wallahu a`lam.