Berobat Tidak Menafikan Kesabaran dan Tidak Menghapus Pahala

14-10-2026 | IslamWeb

Pertanyaan:

Saya seorang perempuan yang telah menikah tetapi belum hamil. Saya selalu berdoa supaya dikaruniai keturunan yang shalih. Tetapi setelah berlangsung sekian lama, akhirnya saya kini mulai menjalani pengobatan, padahal saya ingin mendapatkan pahala ujian, karena pahala bersabar menghadapi ujian sangat besar. Syaikh yang terhormat, apakah jika saya berobat berarti saya tidak sabar menerima musibah yang menimpa saya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Pertama, kami berdoa semoga Allah mengaruniai Anda keturunan yang shalih. Kemudian ketahuilah bahwa mengupayakan sebab-sebab (faktor penyebab terwujudnya sesuatu) tidaklah bertentangan dengan tawakal dan kesabaran. Lihatlah bagaimana Maryam binti `Imrân didatangi oleh rezekinya. Setelah melahirkan Nabi Isa ` may  Allaah  be  pleased  with  him, Allah memerintahkan kepadanya (yang artinya): “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” [QS. Maryam: 25].

Sebuah hadits diriwayatkan dari Anas ibnu Malik— may  Allaah  be  pleased  with  them, ia berkata, “Pada suatu ketika, seorang lelaki berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku perlu menambatkan unta ini (mengikatkan talinya) lalu bertawakal, ataukah aku biarkan ia lepas dan kemudian bertawakal?’ Beliau menjawab: ‘Ikatlah ia, lalu bertawakallah!’.” [HR. At-Tirmidzi].

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa seorang hamba diperintahkan untuk bersabar menghadapi ujian dan tidak berkeluh-kesah. Di samping itu, ia juga diperintahkan untuk mengupayakan sebab-sebab yang dapat mewujudkan manfaat baginya dan menghilangkan mudharat yang menimpanya. Oleh karena itu, Allah mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya agar berobat dan mencari obat bagi penyakit yang menimpanya. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention sendiri bersabda, “Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya tidaklah Allah menurukan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit saja.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, penyakit apakah itu?” Beliau menjawab, “Penyakit tua.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i].

Atas dasar ini, nasihat kami kepada saudari penanya, hendaklah Anda bertawakal kepada Allah, serta bergantung kepada-Nya dengan banyak berdoa supaya dikaruniai keturunan. Dan tidak mengapa Anda mengupayakan sebab-sebab yang bermanfaat demi terwujudnya keinginan itu, asalkan (sebab-sebab atau usaha tersebut) tidak mengandung hal-hal yang diharamkan.

Wallahu a`lam.

www.islamweb.net