Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.
Jawaban dari pertanyaan ini didasarkan pada makna hadits Rasulullah—Shallallahu `alaihi wasallam: "Dan sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Terkait maksud hadits di atas, terdapat banyak pendapat ulama. Imam An-Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahîh Muslim, "Maksud 'menyukai yang ganjil' adalah Allah lebih mengutamakan jumlah ganjil dalam amal-amal dan kebanyakan ibadah para hambanya. Allah menjadikan shalat lima (waktu), berwudhuk dengan tiga kali (membasuh), thawaf tujuh putaran, sa`i tujuh kali, melempar jumrah tujuh kali, hari tasyriq tiga hari, beristinjâ' tiga kali, dan begitu juga kain kafan disunnahkan tiga lapis. Dalam zakat, lima wasaq biji-bijian serta lima awqiyah emas dan perak. Begitu juga nisab unta. Selain itu, Allah menjadikan banyak dari makhluk-Nya yang besar dengan bilangan ganjil, seperti langit, bumi, laut, hari dalam seminggu, dan lain-lain. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya ditujukan kepada sifat orang yang menyembah Allah dengan ikhlas mengakui keesaan dan ketunggalan-Nya."
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Bari, "Tentang makna 'Menyukai yang ganjil', Al-Qadhi `Iyadh berkata, 'Maksudnya, sesungguhnya bilangan ganjil memiliki keistimewaan melebihi bilangan genap dalam nama-nama-Nya, karena menunjukkan keesaan-Nya dalam sifat-Nya'. Namun pendapat ini dibantah dengan pernyataan bahwa jika maksudnya adalah menunjukkan keesaan, tentu nama-nama-Nya tidak akan berbilang (banyak). Akan tetapi maksudnya adalah bahwa Allah menyukai bilangan ganjil dalam segala sesuatu meskipun bilangan itu banyak. Ada pula yang berpendapat bahwa maknanya diarahkan kepada sifat orang yang menyembah Allah dengan ikhlas mengakui keesaan dan ketunggalan-Nya. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah: Allah memerintahkan kita melakukan banyak amal ibadah dalam jumlah ganjil, seperti shalat yang lima waktu, shalat witir di waktu malam, jumlah dalam bersuci, jumlah kafan mayat, dan juga dalam penciptaan banyak makhluk seperti langit dan bumi." [Fathul Bari, dinukil secara ringkas]
Imam Al-Qurthubi mengatakan, "Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah bahwa ganjil di sini menunjukkan makna umum. Karena tidak ada makna khusus dalam masalah ini yang bisa dipakaikan kepada hadits tersebut. Karena itu, maksudnya adalah: Allah ganjil dan menyukai semua perkara ganjil yang Dia syariatkan."
Al-Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan, "Adapun terkait kurma-kurma yang dimakan oleh Nabi dengan bilangan ganjil, Al-Muhallab mengatakan bahwa itu untuk menunjukkan keesaan Allah—Subhanahu wata`ala. Begitu juga yang beliau lakukan dalam setiap urusan beliau, karena mengharap berkah dengannya."
Berdasarkan hal itu, siapa yang melakukan secara ganjil semua perkara yang bisa dihitung dengan ganjil, dengan niat karena mengagungkan sifat esa Allah, kita berharap ia mendapatkan pahala karenanya.
Wallahu a`lam.